devanalferi's Weblog

Catatan Patah Tulang : Peristiwa dan Proses Recovery Paska Operasi

Posted in Uncategorized by devanalferi on June 2, 2015

12 Mei 2015
Malam ini ada acara kantor di kuningan. Perpisahan salah satu bos yang saya kagumi dari sisi logic dan analisis mengenai detail. Setelah acara selesai, ada beberapa teman yang meminta untuk ikut mobil karena searah pulang, ke Bekasi.
Singkat kata, ada teman meminta turun di stasiun Tebet, di sebelum jalan bypass, dan di Tambun. Sebelum bertolak menuju Tambun, saya terlebih dahulu mampir di kantor cabang karena harus mengambil projector untuk meeting keesokan harinya jam 9 di kantor Pluit.

Setelah saya antarkan teman ke Tambun, saya bertolak menuju Bekasi Barat. Dan di situlah peristiwa itu terjadi.

Tidak fokus, atau mengantuk, atau ada hal pengalih perhatian, saya tidak melihat dari kejauhan ada truk pembawa keramik di jalanan di depan saya. Dalam waktu sepersekian detik, saya hanya bisa ingat bahwa saya menoleh ke arah kiri, saya reflek menginjak rem (mobil matic) dan saya pun menabrak truk yang berjalan di kanan dengan kecepatan rendah.

Beberapa detik kemudian, saya ingat dashboard dan stir menjepit paha saya. Teriakan “tolong” adalah hal pertama yang saya ucapkan. Di hati terbersit syukur karena saya masih hidup. Wait! Something wrong dengan paha kanan saya. Saya pun tahu bahwa ada dislokasi atau ada patah.

Satu orang Bapak menggunting seat belt saya dan bertanya apakah kursi mobil masih bisa dimundurkan. Saya mundurkan sebisanya dan saya rebahkan kursi sebisanya. Stir masih menjepit saya! Bapak tersebut mencari besi pengungkit dan mengangkat dashboard dan stir yang menjepit. Berhasil! Saya ditarik ke belakang dan langsung dilarikan ke RS Mitra Bekasi Barat dengan ambulan yang entah dari mana. Saya pun kembali bersyukur.

13 Mei 2015
UGD RS. Dini hari.
Alhamdulillah lagi bahwa dompet masih menempel di tubuh saya sehingga pihak RS tidak kesulitan identifikasi nama saya. Saya ingat telpon ayah saya dan menyampaikan nomor telepon tsb pada suster yang bertugas. Dari ayah langsung dikabari pada istri.

Histeris, tentu. Tapi itu adalah fakta, bahwa saya mengalami kecelakaan mobil.

Istri mengabari pihak kantor, beberapa teman kantor datang dan menemani istri di UGD. Alhamdulillah lagi saya memiliki teman – teman kantor yang baik. Karena sudah ada pihak keluarga, proses di UGD berjalan lancar : CT scan, cek darah, tekanan darah, dll mengambil kesimpulan tulang paha femur dan tulang di bawah tempurung lutut mengalami patah (dalam). Karena kondisi saya cenderung stabil dan sadar, saya dipindahkan ke kamar perawatan untuk menunggu tindakan operasi di hari yang ama pukul 18.00.

Ruang perawatan. Pagi dan siang.
Rekan kantor mulai berdatangan dan memberikan support. Alhamdulillah. HRD, line manager, dan rekan lainnya sangat supportif dalam masa masa tsb.

Karena khawatir pengambilan tindakan operasi terlalu lama, istri dan teman kantor alternatif untuk cek ke RS siloam. Namun, setelah diskusi dengan suster kepala di lantai tersebut, tindakan operasi dapat dimajukan pukul 14.00 karena ada pembatalan 1 operasi.

Pukul 14.00 – 19.30 adalah waktu dimana tindakan operasi dan observasi paska operasi dilakukan. Setelah operasi saya baru mengetahui bahwa patah yang saya alami cukup serius, sehingga pen di tulang paha membutuhkan 10 baut, dan pen di bawah tempurung lutut membutuhkan 6 baut. Well.. I am Iron Man now.

14 Mei 2015.
1 hari paska operasi adalah masa adaptasi yang cukup menantang. Pusing, mual dan susah poop adalah hal hal yang dirasakan. Hal ini belum lagi ditambah dengan obat analgesik yang membuat ngilu sampai ke tulang tangan ketika diinjeksikan ke dalam tubuh.

Sahabat, tetangga, dan teman kantor berdatangan untuk memberikan support. Alhamdulillah masih diberikan lingkungan positif dalam menghadapi masa masa sulit ini.

16 Mei 2015.
Fisioterapis mulai datang untuk memperkenalkan kruk (tongkat), setting kruk, dan belajar duduk. Ya duduk. Paska operasi dan mengalami trauma, duduk adalah salah satu hal yang perlu diadaptasikan kembali.

18 Mei 2015.
Dokter datang dan memaksa saya duduk dengan kaki digantung. Hal tersebut luar biasa. Dimana menggantung kaki yang dioperasi dan masih bengkak adalah hal yang sulit dilakukan. Dokter pun menitip pesan bahwa kaki harus sering digerakkan agar peredaran darah lancar.

19 Mei 2015.
Kateter dan drain darah belum dilepas. Buangan drain darah masih di atas 60 ml. Jika sudah di bawah 30 ml, drain sudah dapat dilepas.

Fisioterapis datang dan saya diajarkan berdiri di samping tempat tidur. Percayalah, tidak mudah.

20 Mei 2015.
Kateter dilepas.
Drain darah dilepas.
Infus dilepas.
Namun pagi itu, saya dimarahi dokter karena masih takut bahwa kaki belum berani digerakkan. Padahal menggerakkan kaki adalah keharusan.

21 Mei 2015 dan 22 Mei 2015
Dokter datang membawa kabar gembira : saya diperbolehkan pulang. Waw! Tapi saya belum mahir dalam penggunaan kruk dan ada beberapa pertanyaan yang harus saya tanyakan pada fisioterapis. Saya pun memutuskan untuk pulang keesokan harinya, dan saya list dahulu pertanyaan untuk fisioterapis. Berikut list pertanyaan dan jawaban dari fisioterapis :
1. Cara bangun dari duduk sendiri. J: Masih dibantu.
2. Cara duduk dari berdiri sendiri. J: Karena utk naik kursi roda. Mepet dulu, pastikan duduk.. Lepas tongkat kiri. Tongkat kanan megang sebagai tumpuan.
3. Cara naik turun tangga. J: Turun tongkat dl. Naik kaki dulu.
4. Posisi kaki ketika duduk. J: Tekuk sebisanya jgn tumpu.
5. Terapi sendiri. J: Engkel dan lutut. Gimana caranya. Tenaga utk kaki. Engkel tarik tarik. Lutut gantung kaki. Tengkurep atas bawah.
6. Jadwal terapi menurut fisioterapis. J: Karena dari dokter tidak ada jadwal. Tiap hari jam 8 sampai 2. Bebas. Bisa seminggu 2x bisa 1x. Biaya : 110 latihan saja. 2 alat jadi total 260an
2x seminggu bisa. Ga ada spesifik paket
7. Cara di toilet duduk. J: Sama seperti mau duduk. Kurang tinggi harus diganjal.
8. Posisi tidur yg bener. J: Bebas. Mau miring kiri boleh, diganjal pakai guling
9. Waktu jalan pake tongkat apa aja yg boleh dan engga. J: Ketika jalan. Boleh semua. Kalau cape tarok kaki boleh. Tp tidak numpu
Note : lancarkan pakai kruk dahulu.

Saat pulang, saya dibantu jemput oleh teman istri. Naik mobil pun saya browsing youtube dahulu, dan didapatkan kesimpulan bahwa untuk naik mobil sama dengan posisi ketika hendak duduk. Namun, dengan beberapa catatan :
A. Kaki boleh lurus, alias duduk selonjoran, jika memang belum bisa menekuk kaki
B. Saat masuk ke dalam mobil, jadikan badan mobil sebagai tumpuan. Menumpu pada pintu mobil dapat mengakibatkan cedera karena pintu mobil dapat bergeser ketika ditumpu.
C. Jika duduk di depan, pastikan kaki bisa menekuk, agak rebahkan kursi, dan seatbelt dipasang.
D. Untuk turun mobil, vice versa dengan step di atas.

Then here we go. Going home.

23 Mei 2015.
Hari pertama di rumah adalah hari adaptasi. Beberapa hal yang dirasakan mengganggu antara lain : posisi tempat tidur kurang pas untuk latihan menggantung kaki, kebutuhan mandi harus disiasati karena lantai kamar mandi terasa licin, kebutuhan poop dan kencing pun harus disiasati, dan keringat dari perban sangat perih jika kena luka bekas jahitan operasi. Oleh karena itu yang dilakukan antara lain : menyewa ranjang pasien yang dapat dinaikturunkan sehingga latihan menggantung kaki dapat berlangsung optimal, kebutuhan mandi disiasati dengan mandi di lap dan keramas di depan kamar mandi, kebutuhan poop disiasati dengan membeli komod chair-tempat wc duduk dengan ember di bawahnya yang dapat dibuka tutup dan dipindahkan, kebutuhan kencing disiasati dengan membeli pispot, masalah keringat di perban adalah masalah utama, dimana saya harus berada di ruangan ber AC jika ingin meminimalisir keringat. Penggunaan kipas angin tidak efektif untuk saya.

29 Mei 2015.
Beberapa hal lainnya yang perly diperhatikan ketika berada di rumah :
Sadarilah bahwa Anda akan bersifat sangat “manja”. Pertegas hal tersebut dengan keluarga agar segala sesuatu berjalan dengan tanpa sungkan.
Kruk bukanlah alat dewa. Percikan air di lantai, karpet yang tidak ajeg pada tempatnya, adalah beberapa musuh utama kruk.
Keseimbangan adalah hal utama dalam penggunaan kruk. Saya sendiri pernah hampir jatuh pada saat hendak memakai sendal. Kaki yang patah pun secara reflek menumpu badan yang hampir jatuh sebelum akhirnya saya ditopang oleh ART. Menumpu badan adalah salah satu hal yang diharamkan untuk pengguna pen, di awal masa recovery pengguna. Karena dengan menumpu badan, pen yang dipasang dapat berubah menjadi bengkok bahkan baut pen dapat terlepas. Browsing sana sini, saya simpulkan langkah pertama adalah konsultasi dengan dokter, dan jika diperlukan rontgen (x-ray) agar lebih pasti.

Hasil konsultasi dokter:
1. Jika Anda tidak merasakan sakit pada area pemasangan pen, termasuk tidak sakit saat kaki menekuk, maka Anda pen Anda aman.
2. Mengapa menumpu dapat membuat pen bengkok, adalah karena pen bersifat “meluruskan” tulang yang patah. Hal utama yang diharapkan adalah tulang sudah “menyambung” dan tulang sudah kuat untuk dapat mulai menumpu badan (tahapan recovery patah tulang : kaki tidak menumpu – kaki menumpu sebagian – kaki menumpu sepenuhnya – lepas kruk – jalan seperti biasa).
Tulang mulai tumbuh kembali pada usia dewasa adalah setelah 2 bulan paska tulang “diluruskan” oleh pen. Oleh karena itu, makanan dan supplemen yang mengandung kalsium sangat dianjurkan dalam proses 2 bulan ini. Berjemur di bawah sinar matahari juga dianjurkan.
Fisioterapi selama tulang belum tumbuh tidak dianjurkan, karena desakan mekanik paksa dari luar, walaupun aman, dapat menyebabkan pergeseran yang tidak diketahui. Lebih utama dengan latihan sendiri: gantung kaki, gerakkan depan belakang, naik turunkan angkle yang kaku. Jika terasa sakit, stop. Itu adalah indikasi bahwa kemampuan maksimal Anda dengan kondisi saat ini. Jangan dipaksakan, karena kembali pada alasan bahwa desakan mekanik paksa dapat menyebabkan pergeseran yang tidak diketahui.
3. Karena ingin lebih pasti, silahkan Anda rontgen – jika Anda mau. Saya pun rontgen, dan hasilnya bagus. Pen dan baut tidak mengalami pergeseran. Alhamdulillah.
4. Kurangi mobilitas yang tidak perlu, sebari memperlancar diri dalam menggunakan kruk dan melatih keseimbangan.

Thanks a lot pada dr. Tito (dokter utama yang melakukan tindakan operasi) dan dr  Sumono (dokter additional konsultasi). Keduanya adalah dokter spesialis Ortopedi di RS Mitra Bekasi Barat.

(bersambung)

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Monika Oktora said, on June 11, 2015 at 12:09 pm

    ya ampuuun devaaaaaan.. merinding banget aku bacanya.
    sing cepet sembuh yaaa, smg ujian kecelakaan ini bikin devan makin kuat dan mendekatkan devan&keluarga pada Allah. aamiin..

  2. Oom Ipin said, on June 19, 2015 at 4:18 pm

    semoga lekas sembuh kak devan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: