devanalferi's Weblog

Corruptor! Kill ’em All

Posted in Uncategorized by devanalferi on January 26, 2009

Baru aja denger bimbim Slank ngomong di KPK Files. Walau ngomong dengan gaya orang mabok, tapi omongannya tentang korupsi benar. Bagi saya, korupsi adalah musuh nomor satu bangsa ini. Saat ini, bahkan sampai kapanpun. Benar juga kata bimbim, mending ngasih makan anak lo uang halal dari kerja keras, dibanding ngasih anak lo makan dari uang hasil korupsi. Hidup sederhana, yang penting bahagia. Ga kayak koruptor yang selalu tertekan. Mungkin sekarang ga tertekan, tapi gue yakin buat para koruptor, buat temen2 yang tau bapak ibunya koruptor, pasti pas nanti kerasa dah mau mati, ga akan tenang..ga bahagia..

Semoga idealisme itu masih ada sampai kapanpun di hati ini…
Karena pernah ada yang pernah bilang di sebuah novel favorit saya sampai saat ini bahwa idealisme itu adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa. Bahkan..saya ga yakin idealisme itu masih menjadi barang mewah dalam diri mahasiswa. Barang mewah versi sekarang adalah mobil-mobil yang makin hari makin banyak saja memenuhi lapangan parkir di ITB.
Dan saya yakin idealisme itu makin luntur dalam diri saya. Saya pun masih menyesal sampai detik ini karena tidak mengikuti Sekolah Anti Korupsi beberapa bulan lalu…Bagaimana dengan Anda? masihkah akan ada idealisme itu nanti? saat anak kita menangis kelaparan, saat istri kita minta perhiasan yang lebih mahal? Akankah masih ada?

Solution(s)? Perlu ada sebuah lingkungan yang terus menjaga kita agar tetap dalam garis kurva kalibrasi idealisme. Karena hidup adalah perjuangan. Selalu berjuang, dan raih kemenangan!

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. earfun said, on February 2, 2009 at 3:18 pm

    Agree!
    tapi, yang menjadi masalah bagi koruptor menurut saya adalah “the power of context”. daya kontekstual.

    meski KPK sudah mengeluarkan “buku saku” nya, meski agama sudah jelas mengharamkannya, tetap saja koruptor2 itu korupsi.
    saya yakin, mereka tau bahwa korupsi itu haram, berdosa, dan dilarang oleh hukum. tapi? mengapa mereka masih berbuat demikian?

    karena tahu saja tidak cukup…

    ada hal lain yang daya dorongnya lebih kuat. ya itu tadi. yang saya sebut “daya kontekstual”.

    dan daya kontekstual ini sangat dipengaruhi oleh rekan-rekan kerja di kursi2 pemerintahan, atau di perusahaan.

    orang sebaik apapun, bahkan mentri agama sekalipun, atau lulusan Al-Azhar Kairo sekalipun, ketika konteks yang terbangun di lingkungan kerjanya “menyuruh” mereka korupsi, sukar bagi mereka untuk menolak.

    konteks itu terbentuk dari budaya yang dibangun

    dan budaya yang terbangun itu bergantung pada orang-orang (rekan kerja) mereka.

    jadi cara mengubah konteks buruk menjadi baik adalah dengan memasukkan sebanyak2 nya orang jujur di kursi pemerintahan dan perusahaan.

    untuk memasukkan orang2 jujur di kursi pemerintahan, sudah jelas. caranya dengan menggunakan hak pilih di pemilu legeslatif dan memilih orang2 yang bersih dari tidak pidana korupsi, peduli pada rakyat, dan profesional dalam bekerja menjalankan amanahnya.

    kalo menduduki kursi perusahaan, ya orang yang kayak devan ini yang mestinya duduk di sana… udah pinter, jujur, ganteng lagi… hehe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: