devanalferi’s Weblog

dahulu-kini

Posted in Uncategorized by devanalferi on October 31, 2009

dulu, pas kuliah S-1 sering ngeluh karena ga ada waktu buat baca-baca bahan kuliah, dan akhirnya selalu SKS kalo mau ujian..ternyata, sekarang setelah kuliah apoteker, which is no practical work, no busy day for class,,,tetep aja malas belajar..terkungkung juga oleh pemikiran tugas2 itu..bukan untuk belajar. gitu dah…

ternyata, memang kita hanya bisa mengeluh dan mengeluh. tetep aja karya nyata belum bisa tercipta..

karya nyata–prestasi.

Usaha dikit, hasil optimal..gua??

Posted in Uncategorized by devanalferi on October 30, 2009

ada orang-orang yang tidak perlu berusaha lebih untuk mendapatkan hasil A. Namun, ada pula orang-orang yang perlu usaha mati-matian untuk mendapatkan hasil A. Saya termasuk orang yang kedua..berusaha mati-matian, baru mendapatkan hasil A seperti orang lain.

 

Banyak dah kasus sakit hatinya. Sekarang, yang diberi pahala itu, usahanya, atau hasilnya? tapi mengapa orang-orang yang pertama itu lebih dihargai dan dibutuhkan di dunia?? dan kalaupun pahalanya dikit, dengan hasil A yang diperoleh lebih mudah, dia dapat berbuat lebih banyak lagi..untuk mendapatkan hasil-hasil B, C, D, E, dst .

 

Dasar..sulit mencari keadilan di dunia..

Claiming on culture(s)

Posted in Uncategorized by devanalferi on September 13, 2009

there’s something bothering my mind. About Malaysia..I know that Tari Pendet is on their commercial..But, I also saw that there’s Chinese culture on it..China do not complaining about that. In fact, chinese very proud that their culture accepted in many country..Not like Indonesian..Why we can not just say that Tari Pendet–or other cultures which belong to Melayu, not only Indonesia–is ours..together we conserve this culture..I don’t know, I just can not see the right thing beyond “sweeping-the-malaysians”-thing recently..

and, in fact is “claiming culture” is really present? Is there any patented culture in this world? *I’m asking, not making statement*

Quote

Posted in Uncategorized by devanalferi on August 31, 2009

Orang2 hebat selalu mendapatkan tantangan terhebat saat dia berada di puncak kejayaan…dan setelah tantangan itu terlalui atau saat dia tidak lagi di puncak, dia akan merindukan tantangan-tantangan hebat itu.

-Devandra Alferi-

Basis Kepentingan

Posted in Uncategorized by devanalferi on August 30, 2009

Dulu, saya berpikir bahwa ada hal2 yang tidak perlu berbasis “kepentingan”. Umm..contohnya, adalah pertemanan, atau bahkan sebuah hubungan. Akan tetapi setelah saya lihat, sesungguhnya semakin dewasa seseorang, semakin dia sadar bahwa basis “kepentingan” itu niscaya dan ada. Sepertinya di dunia ini sudah tiada lagi yang namanya: mencintai tanpa syarat. Kalau ada, saya tepuk tangan bener2 dah! serius ini mah.

Sadari, terkadang kita berteman karena kita takut sendirian. Kita berpacaran, karena takut dibilang jomblo dan ga laku. Kita buka puasa bareng teman2 karena ingin jaga hubungan, daripada hidup sendirian? semuanya berbasis kepentingan. Bahkan kita sering bertindak: ngapain kenal dengan orang lain yang tidak memberi manfaat apapun pada kita?

Haha..
Masih berkaitan dengan hal di atas–saya jadi ingat cerita2 di sinetron bahwa bisa saja kita mencintai pasangan kita tanpa syarat. Walau si “doi” itu A, B, C atau D…tapi tetap saja dicintai dan saling berusaha untuk mengubah keburukan satu sama lain. Beuh, di dunia nyata..ga ada..Sering mendengar cerita teman2..putus ama si A lah, putus ama yang C lah..karena si A itu lalalala..karena si C itu bla bla bla…Semuanya beranjak dari kebutuhan..Kebutuhan akan pasangan..Kebutuhan = basis kepentingan.

Kalau boleh saya bilang: semua yang ada di dunia ini sebetulnya SEMU..yang benar2 sejati dan tanpa syarat adalah cinta Sang Khalik pada hambaNya..hamba bebas memilih sendiri jalan hidupnya..Sang Khalik akan terus memperhatikannya…

Selamat malam…

3 hal, peradaban

Posted in Uncategorized by devanalferi on August 29, 2009

Sungguh, ada sebuah 3 hal yang dapat menghancurkan peradaban:harta, tahta, dan wanita. Hal yang pertama dan kedua bukan lagi hal aneh untuk dibahas. Tapi poin ke-3 selalu menarik untuk dibahas, walau tidak mungkin mendalam. Ketua KPK terbongkar kasusnya karena Rani, seorang caddy. Julius Caesar yang hebat takluk oleh kecantikan Cleopatra. Seorang teman yang sering bolos dalam wajihahnya karena sedang mendalami hati seorang wanita yang dikenalnya…*dan bahkan Anda yang sedang membaca blog ini..jujur pada diri Anda..pernahkan Anda “mengkhianati” hanya karena Anda sedang asik melihat keunikan dari sisi wanita? (tidak perlu pacaran ko..jujur aja..hehe) Jujur saja, saya sendiri pernah hampir tenggelam di dalam keasikan itu. Untung bisa sadar sebelum semua benar2 terlambat! fiuhhh….

Parahnya, para wanita menyadari bahwa mereka pun dapat menyetir peradaban dengan peran mereka dan pengaruhnya pada pria. “Play with beauty”, mungkin begitu slogan mereka jika sudah mengenal iklan sabun di Indonesia itu. Hehehe.

Namun, beruntung pula para pria yang memiliki wanita-wanita hebat yang bersanding dengan mereka. Di balik pria hebat selalu ada wanita hebat. Memang, dan akan terus seperti itu. Dan tanpa wanita, tidak akan pernah dilahirkan pria2 hebat yang memimpin..Tidak akan pernah ada Sukarno, tidak akan pernah ada Hatta, tidak akan pernah ada Muhammad SAW, dan tidak akan pernah ada saya..Devandra Alferi. :D

Karena bangsa ini pun lahir dari peranan para Ibu nya..dan Ibu selalu jadi yang utama..Makanya bangsa ini dinamakan: Ibu Pertiwi.

Keep Fighting

Posted in Uncategorized by devanalferi on July 24, 2009

titik mentok dari S1 adalah sidang dan seminar, titik mentok dari program studi apoteker adalah ujian apt. Saya sndiri belum pernah sampai mentok. Justru jalan menuju jalan mentok itulah yang sekarang terhambat..Tugas Akhir..

Inti dari semua itu, titik2 mentok itu, bagi saya adalah sebuah perjuangan. Lawan siapa? dosen? alat disolusi? bakteri E.coli? lab yang ga boleh kerja malam? Kaga..
perjuangan melawan diri sendiri.

Justru di titik itulah banyak orang berputus asa lalu dosa. Ah ngomong apa si..hehe..Di titik ini manajemen waktu, perencanaan, dan fokus bercampur jadi satu..yang kemudian diselimuti oleh “luck” — keberuntungan.
Ini terjadi pada diri saya sendiri. Entah apa yang terjadi..semua tahapan dalam TA saya pasti tersandung masalah. Kemudian saya evaluasi diri..managemen diri diperbagus..semua tertata..dicatat ampe detail..meramu semua kemungkinan2 yang tidak terduga…

masih tetap gagal uji uji di TA saya.. ^^
datang sering paling pagi,,pulang sering paling sore,,masih gagal…di sinilah titik perjuangan melawan diri diuji….istiqamahkah? menggerutu kah? menghujatkah? hehe..

saya berusaha untuk diam. Walau muka pasti cemberut…hahaha..berpikir ulang lagi dan lagi..dan berdoa.dan berharap bahwa selimut “luck” itu akan datang untuk saya….segera. karena tidak ada lagi waktu. amiin

*notes ini saya dedikasikan untuk teman2 lab…terutama Irfan Fa05 yang juga merasakan kegagalan seperti saya..dan juga untuk akang teteh yang mau ujian apoteker…semua orang2 yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri……
semoga kita dapat diselimuti “luck” yang banyak.dan Allah SWT akan terus bersama kita…amiiin.

Horrible 2-3 weeks

Posted in Uncategorized by devanalferi on July 7, 2009

Kampret!!!

Di otak gua saat ini sih:

makan, atau dimakan. Bully dunia atau dunia yang membully lo. menyakiti atau disakiti. Basic nature of survival!

teuing ah..pusing..take a breath dulu..yang pasti KAMPRET buatnya.

DiPRIVAN..digunakan di ICU, melemahkan fungsi jantung. siapa pemberi obat ini?

Ternyata..

Posted in Uncategorized by devanalferi on June 26, 2009

Ternyata, saat kita  bergerak cepat ke depan untuk menghadapi dunia yang memaksa kita untuk terus bergerak ini, terkadang kita perlu melepas sedikit pedal gas, menginjak kopling, dan bahkan menginjak rem untuk berhenti.

Udah seminggu ini, itu yang aku lakukan..Melepas gas, menginjak kopling, dan menginjak rem sesaat..melihat ke belakang apa yang terjadi selama ini..evaluasi. Walau terkadang ternyata evaluasi itu ga didapatkan dengan mudah dan akhirnya terlalu lama mengijak rem-nya…

Udah seminggu ini, kembali melihat dunia anak2 asrama yang visioner, dunia laskar pelangiku (teman-teman sejatiku dari SD) yang realistis, dunia serambisehat yang idealis, realistis, dan bisnis, serta dunia akademis yang tegas.

Nyatanya tulisan ini aku buat sesaat setelah aku menonton Kambing Jantan (Raditya Dika)..udah basi, udah ga bioskop, so last year, dan bahkan aku tidak membaca sedikit pun bukunya..Nyatanya film ini yang menyadarkan aku bahwa evaluasi dan untuk mengakui bahwa kita sudah berbeda adalah suatu tindakan yang tidak mudah dan berani. Nyatanya, bukan debat presiden yang menyadarkan aku bahwa Indonesia itu gagah, merdeka, dan layak diperjuangkan. Nyatanya teman-teman asrama aku yang terus mengingatkan akan hal itu. Nyatanya teman2 lab yang mengingatkan aku bahwa dunia akademis itu pasti: kalo salah ya salah, kalo betul ya betul…

Jangan lupa untuk evaluasi apa yang telah kita kerjakan..dan jangan lupa pula untuk mensyukuri apa-apa yang terjadi pada masa lalu..karena ketika di masa lalu kita salah, sesungguhnya ada pelajaran yang dapat kita ambil dari itu..dan ketika perbuatan masa lalu kita benar, sesungguhnya terdapat pula pelajaran dari kesuksesan di masa lalu itu.

Dan terakhir,,,nyatanya (dan ini paling nyata), bahwa tulisan ini merupakan sebuah ide yang tercurah dari kalimat dalam film ini, yaitu “Sekarang, dunia akan terus berputar..dan aku akan terus berdiri….moga-moga dengan berakhirnya lagu ini, aku udah bisa..ngelupain kamu…

Entah ini bisa meng inspire apa ga..makanya aku ga berani men tag siapapun dalam notes ini..biarlah tulisan ini untuk sementara menginspire aku dulu..

Devandra Alferi, 21.46, 26 Juni 2009

*Idealis yang mencoba untuk realistis dan terus logis

change

Posted in Uncategorized by devanalferi on June 19, 2009

postingan sama dengan notes di fb untuk 06 dan 07

“Sebenarnya kita memang harus mempertahankan kondisi seperti ini, atau sebenarnya kita yang harus berubah?”
itu adalah pertanyaan saya melihat kondisi kampus kurang lebih 4 tahun lalu.

Pada waktu itu, terdapat kasus tentang demonstrasi konvensional (mengemukakan pendapat dengan turun ke jalan) yang dilarang dan dihalang-halangi oleh pihak-pihak eksternal, sementara mahasiswa sendiri banyak yang mulai enggan untuk diajak untuk demonstrasi. Banyak mahasiswa lain (pro demonstasi) yang protes dan mengeluh..ko dilarang demonstrasi, ko mahasiswa pada ga mau diajak demo lagi..mahasiswa sekarang cengeng, manja, malas, dll..

Saya kemudian bertanya pada diri saya sendiri..pertanyaan yang tulis di awal notes ini..dan pertanyaan lanjutannya adalah: Apa tidak ada sebuah mekanisme yang lebih baik ya dibanding demonstrasi ke jalan? mahasiswa sebagai seorang insan akademis di kampus seharusnya menyadari adanya sebuah metode dialektika ilmiah untuk mengkritisi sebuah permasalahan dan memberi solusi-solusi cerdas.

Sekarang, seorang mantan kahim saya, yang sekarang bisa melihat kemahasiswaan dalam cakrawala lebih luas lagi melalui kabinet KM ITB, memberi tahu bahwa sebetulnya mahasiswa sekarang sudah mulai bertransformasi…dan itu yang perlu disadari. Bahwa ternyata, sesungguhnya ketika saya bertanya apa kita takut berubah, itu benar adanya..makanya, butuh waktu 4 tahun bagi saya untuk mengetahui itu semua..karena perubahan yang terjadi di kampus ini sangat minim, sedikit demi sedikit..karena masih ada orang-orang yang bernostalgia akan masa lampau..tidak berani untuk menghadapi masa kini dan menantang diri untuk masa depan.

Jadi, jangan pernah takut untuk berubah temans.
*thx lim..udah memberi tahu jawabannya..